Oleh : Imam Mawardi (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana di banyak kampung di Madura biasanya mulai terasa berbeda. Dapur-dapur rumah tangga menjadi lebih sibuk dari hari biasa. Sejak pagi, aroma santan, bumbu rempah, dan masakan rumahan mulai memenuhi udara. Bukan hanya karena persiapan menyambut tamu Lebaran, tetapi juga karena ada satu kebiasaan yang hingga kini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat, yaitu tradisi ter-ater Madura.
Bagi banyak keluarga, tradisi ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana menjelang hari raya. Ada kesan bahwa Lebaran belum benar-benar terasa jika makanan belum diantar ke rumah kerabat atau tetangga terdekat.
Apa Itu Tradisi Ter-ater dalam Budaya Madura?
Bagi orang Madura, Lebaran tidak hanya identik dengan salat Id, baju baru, atau kumpul keluarga. Ada kebiasaan yang sudah turun-temurun dilakukan beberapa hari sebelum hari raya, yaitu mengirim makanan ke rumah kerabat, tetangga, guru, hingga tokoh masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal. Tradisi inilah yang dikenal dengan sebutan ter-ater.
Secara sederhana, kata “ater” dalam bahasa Madura berarti mengantar atau membawa sesuatu kepada orang lain. Dalam praktiknya, ter-ater berarti mengantarkan makanan sebagai bentuk perhatian, penghormatan, dan penguat hubungan sosial. Biasanya, makanan dikemas dalam wadah khusus lalu dibawa langsung ke rumah tujuan oleh anggota keluarga, sering kali oleh anak-anak atau remaja.
Selain itu, tradisi ini tidak memiliki aturan baku mengenai siapa yang wajib menerima kiriman makanan. Dalam banyak keluarga, penerima biasanya adalah orang-orang yang dianggap dekat secara emosional maupun sosial.
Makanan Apa Saja yang Biasanya Dikirim?
Isi makanan yang dibawa pun beragam, tergantung kemampuan masing-masing keluarga dan kebiasaan daerah setempat. Di beberapa tempat, ketupat dan opor ayam hampir selalu menjadi menu utama. Ada juga yang menambahkan sambal goreng kentang, telur balado, mie goreng, atau aneka lauk rumahan lainnya. Tidak jarang pula disertai kue tradisional sebagai pelengkap.
Dalam banyak keluarga Madura, jumlah makanan yang disiapkan untuk ter-ater kadang justru lebih banyak daripada kebutuhan makan keluarga sendiri pada hari itu. Sebab, yang dikirim bukan hanya satu rumah. Bisa dua, tiga, bahkan lebih, tergantung relasi sosial yang dimiliki keluarga tersebut.
Mengapa Tradisi Ini Dilakukan Sebelum Lebaran?
Tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar berbagi makanan. Di balik aktivitas sederhana itu, ada nilai sosial yang kuat: menjaga silaturahmi. Dalam budaya Madura, hubungan antar keluarga dan antar tetangga dipandang sebagai sesuatu yang harus terus dipelihara, terutama menjelang momen besar seperti Idulfitri.
Karena itu, ter-ater sering dipahami sebagai cara halus untuk mengatakan bahwa hubungan baik harus tetap dijaga. Tidak perlu kata-kata panjang, cukup dengan sepiring makanan yang diantar ke rumah seseorang, pesan kedekatan itu sudah tersampaikan.
Selain kepada keluarga dekat, makanan juga sering dikirim kepada orang-orang yang dihormati, seperti guru ngaji, tokoh agama, atau tetua kampung. Dalam konteks ini, ter-ater menjadi bentuk penghargaan dan rasa hormat yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Tradisi Ter-ater Madura Masih Bertahan Hingga Sekarang
Menariknya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh generasi tua. Di banyak desa di Madura, anak-anak muda tetap dilibatkan. Mereka biasanya diminta mengantar makanan ke rumah-rumah tujuan. Secara tidak langsung, ini menjadi cara keluarga mengenalkan nilai berbagi kepada generasi berikutnya.
Bahkan, di beberapa kampung, suasana menjelang sore hari sebelum Lebaran sering dipenuhi anak-anak yang berjalan membawa rantang atau wadah makanan menuju rumah kerabat dan tetangga.
Di tengah perubahan gaya hidup modern, tradisi ter-ater memang mengalami sedikit penyesuaian. Jika dulu makanan dibawa menggunakan nampan tertutup atau wadah tradisional, sekarang banyak yang memakai kotak makanan modern atau wadah plastik praktis.
Meskipun demikian, esensi tradisi ini tetap sama: berbagi sebelum hari raya tiba.
Sebagian warga bahkan menganggap ter-ater sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Lebaran itu sendiri. Jika belum mengantar makanan ke rumah saudara atau tetangga, rasanya seperti ada yang kurang dalam menyambut Idulfitri.
Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana makanan dalam budaya Madura bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi bagian dari bahasa sosial. Makanan menjadi medium komunikasi yang hangat, akrab, dan penuh makna.
Di era ketika banyak tradisi lokal mulai memudar karena perubahan zaman, ter-ater justru masih bertahan di banyak daerah Madura. Salah satu alasannya karena tradisi ini tumbuh dari kebutuhan sosial yang nyata: menjaga kedekatan antar manusia.
Tidak hanya itu, tradisi ini juga menjadi salah satu identitas budaya yang membuat masyarakat Madura tetap memiliki ikatan sosial yang kuat hingga sekarang.
Ter-ater mungkin terlihat sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan satu pesan penting: bahwa hubungan antarmanusia kadang bisa dijaga melalui hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.
